Aku panggil emakku Meps dan Bapakku Beps. Kenapa? Aku tidak tahu, aku sudah panggil mereka begitu. Meps rambutnya pendek banget. kata Beps, setiap minggu Meps mesti cukur. Kalau tidak, kesaktiannya hilang. Begitulah sepenggal percakapan dalam buku Aku, Meps, dan Beps. Buku ini diceritakan dalam sudut pandang seorang anak. Ibu dan ayah dari tokoh utama yang dipanggil dengan sebutan Meps dan Beps…
Hari-hari Na Willa masih dipenuhi kegembiraan: bermain bersama teman-temannya, membaca buku pinjaman dari Bu Juwita, bahkan menyanyi di RRI. Kegembiraannya semakin bertambah, karena kini Pak juga menyertai hari-harinya. Pak mengantar Na Willa ke sekolah, membelikannya es krim (tapi, Willa tidak boleh bilang kepada Mak!), mengajarinya ketak-ketik di kantor, serta bersama-sama menggambari dinding…
Na Willa duduk sendiri di sekolah, membaca Wiro, sementara anak lain asyik bermain.
Kisah tentang Na Willa, seorang anak kecil yang tumbuh di sebuah gang di Surabaya. Melalui catatan dan pengalamannya sehari-hari, pembaca diajak melihat dunia dari sudut pandang anak-anak yang penuh rasa ingin tahu, hangat, dan sederhana. Buku ini menghadirkan potret masa kecil yang nostalgik serta gambaran kehidupan masyarakat pada masanya melalui berbagai peristiwa dan kenangan yang membentuk…
Di balik setiap wajah yang kita jumpa, ada kisah yang nyaris tak pernah terucap. Melalui Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya, Reda Gaudiamo merangkai tiga puluh cerita pendek yang mengingatkan kita, bahwa hidup tidak pernah benar benar biasa saja. Di tangan Reda, cerita orang-orang biasa berubah menjadi potret kehidupan yang hangat lucu, dan terkadang menyayat serta membuat kit…